Terdapat banyak sekali tradisi hari Paskah di seluruh dunia. Walaupun hari Paskah merupakan bagian sejarah agama Kristen, hari libur ini dirayakan oleh baik umat Kristiani maupun non-Kristiani dengan berbagai cara.
Di banyak tempat, hari Paskah sangat identik dengan coklat dan roti hot cross. Di Australia, hari Paskah bertepatan dengan pertunjukan agrikultur terbesar di negara tersebut. Di Roma, sang Paus memimpin beberapa misa Pekan Suci, dan di Filipina, para umat Katolik berpuasa dan mempertunjukkan aksi peristiwa penyaliban.
Hari Paskah di seluruh dunia menampilkan berbagai ragam tradisi yang sangat menarik, baik bagi orang awam, umat yang religius dan bahkan hanya orang yang menyenangi makanan manis.
Berikut adalah beberapa pengalaman berebeda di berbagai belahan dunia yang bisa didapatkan para pelancong semasa Hari Paskah.
ROMA
Perayaan Paskah merupakan masa tersibuk untuk negara Roma. Bagi para pelancong yang mencintai ritual dan perayaan, Roma merupakan tujuan terbaik untuk hari Paskah - cuacanya menyenangkan dan terdapat banyak acara Pekan Suci. Dimulai dari Kamis Putih, Paus akan mengadakan misa-misa kepada para umat di St Peter's Square dan acara-acara akan berlanjut hingga Minggu Paskah. Selama hari Paskah, Roma dipenuhi oleh peziarah Katolik dan akomodasi akan sangat sulit didapatkan jika tidak dipesan dari jauh-jauh hari.
LONDON
Hari Paskah di kota London tidak dirayakan se-religius seperti di Roma, namun tetap terdapat banyak acara yang menarik. Aktivitas populer nya merupakan pencarian telur Paskah, dimana telur-telur coklat yang telah dibungkus dengan aluminium foil dari berbagai ukuran disembunyikan di taman-taman dan kebun-kebun. Pencarian ini umumnya diadakan di tanah lahan kota tua Inggirs yang memiliki kebun yang indah. Biasanya, kesempatan menghabiskan beberapa jam dalam pencarian ini telah merupakan keasyikan sendiri. Tahun ini, pernikahan kerjaan Pangeran Willian dan Kate Middleton juga bertepatan dengan pekan panjang hari Paskah, sehingga ini akan menjadi waktu yang sibuk untuk kota London.
SYDNEY
Walaupun telur coklat dan kelinci merupakan fokus utama hari Paskah di Australia, hari Paskah juga merupakan waktu dimana masyarakat kota Sydney dapat merasakan pengalaman kehidupan di luar kota. Selama 2minggu, acara Pertunjukan Hari Paskah Sydney akan mengadakan acara berkuda, kontes ternak, penebangan kayu, pencukuran domba dan pertunjukan agrikultur. Bagian istimewa dari perayaannya merupakan kunjungan ke kebun binatang yang masih bayi, karnaval, pertunjukan anjing sheepdong dan berbagai hadiah bingkisan bertema yang dipenuhi dengan mainan dan permen.
BARCELONA
Di Spanyol, Pekan Suci dikenal dengan nama "Semana Santa". Minggu ini dipenuhi dengan berbagai acara istimewa, dan makanan tradisional Paskah bukan sekedar telur coklat. Pada Jumat Agung, banyak umat Kristiani yang berpuasa makan daging, tetapi mereka memakan makanan tradisi Barcelona, yakni ikan cod. Kue Paskah - la Mona de Pascua - juga merupakan hal istimewa tradisi Catalan. La Mona de Pascua merupakan kue berbentuk cincin yang didekorasi dengan telur matang dan diberikan oleh orangtua angkat kepada anak angkat pada akhir masa Advent (masa berpuasa).
MANILA
Tradisi hari Paskah Filipina yang sering dipublikasikan adalah pertunjukan aksi penyaliban sukarela oleh para umat Katolik. Pada pertunjukkan The Passion, yang biasanya dilakukan di hari Jumat Agung di San Pedro Cutud (sejam berkendara dari Manila utara), para umat yang bertobat akan membiarkan tangan dan kaki mereka dipaku ke salib. Acara ini umumnya lebih bersifat pesta dan banyak turis serta masyarakat lokal yang datang untuk menonton. Para penjaja jalanan menjual suveni dan makanan kecil. Setelah berpuasa untuk masa Advent, Minggu Paskah adalah hari perayaannya dan banyak hotel mewah di Manila yang mengadakan acara pencarian telur dan permainan keluarga.
HAPPY EASTER!
With love,
VLODOO.
Tampilkan postingan dengan label Jesus Christ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jesus Christ. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 April 2011
Minggu, 17 April 2011
Apa itu JALAN SALIB?
Sejak abada pertama umat Kristiani telah mengadakan ziarah ke tanah kelahiran Yesus. Santa Helena, ibunda Raja Konstantin, melakukan ziarahnya yang terkenal itu pada abad ke-4 dalam usahanya untuk mengenali dari dekat tempat Yesus dilahirkan, wafat dan dimakamkan. Untuk jangka waktu yang pendek, yaitu setelah tahun 1199 ketika tentara-tentara Perang Salib berhasil menguasai Yerusalem dan wilayah sekitarnya, ziarah dapat dilakukan tanpat kesulitan. Tetapi sejak tahun 1291 setelah mereka kehilangan kekuasaan mereka atas daerah tersebut, ziarah menjadi lebih berbahaya dan mahal. Ibadat Jalan Salib bertujuan untuk menghadirkan Tanah Suci baik bagi mereka yang tidak dapat berziarah kesana maupun bagi mereka yang sudah berziarah kesana.
Fransiskus dari Asisi mempunya dua devoi yang amat mendalam yaitu : Inkarnasi Yesus dan Sengsara Yesus. Masing-masing dilambangkan dengan buaian dan salib. Para biarawan Fransiskan mempopulerkan devosi Jalan Salib sejak abad ke-14. Umat membuat perhentian-perhentian kecil di dalam gereja, kadang-kadang dibangun juga perhentian-perhentian yang besarnya seukuran manusia di luar gereja. Segera saja, hampir semua gereja telah memiliki perhentian-perhentian Jalan Salib. Para biarawan Fransiskan juga menuliskan lirik Stabat Mater, yang biasanya dinyanyikan saat Ibadat Jalan Salib, baik dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Latin, maupun dalam bahasa setempat. Jumlah perhentian serta peristiwa-peristiwa Jalan Salib yang dikenangkan bervariasi dari waktu ke waktu. Ke-14 peristiwa Jalan Salib yang sekarang ditetapkan oleh Paus Clement XII (1739-1740)
Baik kita melakukan Ibadat Jalan Salib seorang diri atu bersama-sama dengan umat lain, di dalam gereja atau pun di ke-14 perhentian di luar gereja. Ibadat ini menjadikan kisah sengsara dan wafat Yesus terasa nyata dan hidup.
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Fransiskus dari Asisi mempunya dua devoi yang amat mendalam yaitu : Inkarnasi Yesus dan Sengsara Yesus. Masing-masing dilambangkan dengan buaian dan salib. Para biarawan Fransiskan mempopulerkan devosi Jalan Salib sejak abad ke-14. Umat membuat perhentian-perhentian kecil di dalam gereja, kadang-kadang dibangun juga perhentian-perhentian yang besarnya seukuran manusia di luar gereja. Segera saja, hampir semua gereja telah memiliki perhentian-perhentian Jalan Salib. Para biarawan Fransiskan juga menuliskan lirik Stabat Mater, yang biasanya dinyanyikan saat Ibadat Jalan Salib, baik dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Latin, maupun dalam bahasa setempat. Jumlah perhentian serta peristiwa-peristiwa Jalan Salib yang dikenangkan bervariasi dari waktu ke waktu. Ke-14 peristiwa Jalan Salib yang sekarang ditetapkan oleh Paus Clement XII (1739-1740)
Baik kita melakukan Ibadat Jalan Salib seorang diri atu bersama-sama dengan umat lain, di dalam gereja atau pun di ke-14 perhentian di luar gereja. Ibadat ini menjadikan kisah sengsara dan wafat Yesus terasa nyata dan hidup.
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Apa itu hari MINGGU PALMA?
Pernahkah kalian menyaksikan suatu pertunjukkan drama hidup, dengan aktor serta aktris yang nyata? Jika mereka berakting dengan baik, mungkin untuk sementara waktu kalian lupa bahwa kalian sedang berada di gedung pertunjukkan. Malahan mungkin kalian tidak sempat berpikir bahwa aktor dan aktris di atas panggung itu hanyalah sedang berpura-pura menjadi orang lain. Dengan kata lain, kalian terbawa dalam peran yang mereka mainkan.
Itulah sebabnya mengapa kita memegang daun-daun palma pada hari ini (17April'2011). Kalian tdk hanya menyaksikan suatu pertunjukkan, tetapi kalian diminta untuk berperan serta di dalamnya. Kalian menjadi aktor serta aktris dalam suatu drama yang paling hebat sepanjang masa : minggu terakhir dalam kehidupan Yesus. Dan daun-daun palma adalah perlengkapan kalian.
Adegan diawali dengan Yesus memasuki kota Yerusalem dengan jaway. Di masa silam para raja mempunyai kebiasaan untuk setiap tahun sekali mengunjingki berbagai desa dan kota di wilayah kerajaannya. Kunjungan seperti itu dalam bahasa Yunani disebut "Epifani". Mereka mengadakan sidang dan bertindak sebagai hakim serta menjatuhkan vonis. Mereka juga mengumumkan peraturan-peraturan serta memungut pajak. Sebagian kunjungan epifani bersifat damai, sementara sebagian lagi bersifat lebih menyerupai perang. Rakyat dpt mengetahui tujuan kedatangan raja dengan mengamati bagaimana ia memasuki kota. Pada masa itu kuda harganya amat mahal dan hanya digunakan untuk berperang. Jadi jika raja memasuki kota dengan menunggang kuda, biasanya berarti kerajaan dalam bahaya. Rakyat menjadi kalut dan ketakutan. Jika raja hanya bertujuan untuk mengadakan kunjungan damai, ia akan memasuki kota dengan menunggang keledai.
Cara inilah yang digunakan Yesus Kristus sang Raja untuk memasuki Yerusalem. Yesus bermaksud menyampaikan dua pesan yang jelas kepada rakyat Yerusalem. Yang pertama bahwa Ia adalah raja, yang kedua adalah bahwa Ia bermaksud membawa damai sejahtera..
Yesus datang dari Bukit Zaitun menuju lembah Kidron, di sebelah timur Bait Allah. Perjalanan yang harus ditempuh-Nya menurun dan curam. Selain jalanan disitu sempit dan kotor, hujan musim semi telah membuat jalanan menjadi licin. Orang-orang yang bersorak-sorai menyambut Yesys menebarkan ranting-ranting dan pakaian mereka di jalan supaya keledai Yesus tidak tergelincir. Sementara Yesus menuruni bukit, khalayak ramai meneriakkan "Hosanna!" , bahasa Ibrani yang artinya "Selamatkan Kami!"
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Itulah sebabnya mengapa kita memegang daun-daun palma pada hari ini (17April'2011). Kalian tdk hanya menyaksikan suatu pertunjukkan, tetapi kalian diminta untuk berperan serta di dalamnya. Kalian menjadi aktor serta aktris dalam suatu drama yang paling hebat sepanjang masa : minggu terakhir dalam kehidupan Yesus. Dan daun-daun palma adalah perlengkapan kalian.
Adegan diawali dengan Yesus memasuki kota Yerusalem dengan jaway. Di masa silam para raja mempunyai kebiasaan untuk setiap tahun sekali mengunjingki berbagai desa dan kota di wilayah kerajaannya. Kunjungan seperti itu dalam bahasa Yunani disebut "Epifani". Mereka mengadakan sidang dan bertindak sebagai hakim serta menjatuhkan vonis. Mereka juga mengumumkan peraturan-peraturan serta memungut pajak. Sebagian kunjungan epifani bersifat damai, sementara sebagian lagi bersifat lebih menyerupai perang. Rakyat dpt mengetahui tujuan kedatangan raja dengan mengamati bagaimana ia memasuki kota. Pada masa itu kuda harganya amat mahal dan hanya digunakan untuk berperang. Jadi jika raja memasuki kota dengan menunggang kuda, biasanya berarti kerajaan dalam bahaya. Rakyat menjadi kalut dan ketakutan. Jika raja hanya bertujuan untuk mengadakan kunjungan damai, ia akan memasuki kota dengan menunggang keledai.
Cara inilah yang digunakan Yesus Kristus sang Raja untuk memasuki Yerusalem. Yesus bermaksud menyampaikan dua pesan yang jelas kepada rakyat Yerusalem. Yang pertama bahwa Ia adalah raja, yang kedua adalah bahwa Ia bermaksud membawa damai sejahtera..
Yesus datang dari Bukit Zaitun menuju lembah Kidron, di sebelah timur Bait Allah. Perjalanan yang harus ditempuh-Nya menurun dan curam. Selain jalanan disitu sempit dan kotor, hujan musim semi telah membuat jalanan menjadi licin. Orang-orang yang bersorak-sorai menyambut Yesys menebarkan ranting-ranting dan pakaian mereka di jalan supaya keledai Yesus tidak tergelincir. Sementara Yesus menuruni bukit, khalayak ramai meneriakkan "Hosanna!" , bahasa Ibrani yang artinya "Selamatkan Kami!"
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Apa itu MASA PRAPASKAH?
Masa Prapaskah adalah masa pertumbuhan jiwa kita. Kadang-kadang jiwa kita mengalami masa-masa kering dimana Tuhan terasa amat jauh. Masa Prapaskah akan mengubah jiwa kita yang kering itu. Masa Prapaskah juga membantu kita untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk seperti mementingkan diri sendiri dan suka marah.
Banyak orang mengikuti retret setiap tahun. Retret itu semacam penyegaran jiwa. Kita membebaskan diri dari segala beban dan segala rutinitas sehari-hari. Tujuannya agar kita dapat meluangkan waktu untuk memikirkan dan mendengarkan Tuhan. Kalian boleh menganggap Masa Prapaskah sebagai suatu Retret Agung selama 40hari. Yaitu saat utk mengusir semua kekhawatiran dan ketakutan diri pada Sahabat kita dan mempererat hubungan kita dengan-Nya. Sahabat itu, tentu saja, adalah Tuhan. Kita dapat mempererat hubungan kita dengan-Nya dengan berbicara kepada-Nya dan mendengarkan-Nya. Cara lain yg jg baik adalah dgn membaca bagaimana orang lain membangun persahabatan dengan Tuhan di masa silam. Kitab suci adalah bacaan yang tepat atau bisa juga kisah hidup para santo san santa.
Akhirnya, hanya ada dua kata untuk menyimpulkan apa itu Masa Prapaskah, yaitu : "NIAT" dan "USAHA". Misalnya saja kita berniat untuk lebih mengasihi sesama, kita juga berniat untuk tdk lagi menyakiti hati sesama. Salah satu alasan mengapa kita gagal memenuhi niat kita itu adalah krn kita kurang berusaha. Kitab suci mengatakan "roh memang penurut, tetapi daging lemah". Disinilah peran Masa Prapaskah, yaitu membangun karakter yang kuat. Kita berusaha untuk menguasai tubuh dan pikiran kita dengan berlatih menguasai diri dalam hal-hal kecil. Oleh karena itulah kita melakukan silih selama Masa Prapaskah. Kita berpantang permen atau rokok atau pun berpantang menonton program TV yang paling kita sukai. Dengan berpantang kita belajar mengendalikan diri. Jika kita telah mampu menguasai diri dalam hal-hal kecil, kita dapat meningkatkannya pada hal-hal yang lebih serius.
Berlatih menguasai diri baru sebagian dari usaha. Tidaklah cukup hanya berhenti melakukan suatu kebiasaan buruk, tetapi juga harus memulai suatu kebiasaan baik utk menggantikan kebiasaan buruk kita itu. Misalnya saja membaca Kitab Suci setiap hari, berdoa Rosario, menerima Komuni secara teratur. Jadi jangan hanya duduk diam saja. LAKUKAN SESUATU! Mulailah Hari Rabu Abu dgn menerima abu yg telah diberkati, lalu kemudian memulai hidup baru bagi jiwamu!
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Banyak orang mengikuti retret setiap tahun. Retret itu semacam penyegaran jiwa. Kita membebaskan diri dari segala beban dan segala rutinitas sehari-hari. Tujuannya agar kita dapat meluangkan waktu untuk memikirkan dan mendengarkan Tuhan. Kalian boleh menganggap Masa Prapaskah sebagai suatu Retret Agung selama 40hari. Yaitu saat utk mengusir semua kekhawatiran dan ketakutan diri pada Sahabat kita dan mempererat hubungan kita dengan-Nya. Sahabat itu, tentu saja, adalah Tuhan. Kita dapat mempererat hubungan kita dengan-Nya dengan berbicara kepada-Nya dan mendengarkan-Nya. Cara lain yg jg baik adalah dgn membaca bagaimana orang lain membangun persahabatan dengan Tuhan di masa silam. Kitab suci adalah bacaan yang tepat atau bisa juga kisah hidup para santo san santa.
Akhirnya, hanya ada dua kata untuk menyimpulkan apa itu Masa Prapaskah, yaitu : "NIAT" dan "USAHA". Misalnya saja kita berniat untuk lebih mengasihi sesama, kita juga berniat untuk tdk lagi menyakiti hati sesama. Salah satu alasan mengapa kita gagal memenuhi niat kita itu adalah krn kita kurang berusaha. Kitab suci mengatakan "roh memang penurut, tetapi daging lemah". Disinilah peran Masa Prapaskah, yaitu membangun karakter yang kuat. Kita berusaha untuk menguasai tubuh dan pikiran kita dengan berlatih menguasai diri dalam hal-hal kecil. Oleh karena itulah kita melakukan silih selama Masa Prapaskah. Kita berpantang permen atau rokok atau pun berpantang menonton program TV yang paling kita sukai. Dengan berpantang kita belajar mengendalikan diri. Jika kita telah mampu menguasai diri dalam hal-hal kecil, kita dapat meningkatkannya pada hal-hal yang lebih serius.
Berlatih menguasai diri baru sebagian dari usaha. Tidaklah cukup hanya berhenti melakukan suatu kebiasaan buruk, tetapi juga harus memulai suatu kebiasaan baik utk menggantikan kebiasaan buruk kita itu. Misalnya saja membaca Kitab Suci setiap hari, berdoa Rosario, menerima Komuni secara teratur. Jadi jangan hanya duduk diam saja. LAKUKAN SESUATU! Mulailah Hari Rabu Abu dgn menerima abu yg telah diberkati, lalu kemudian memulai hidup baru bagi jiwamu!
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Apa itu RABU ABU?
Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan, pemeriksaan batin dan berpantang guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita.
Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, ditanggalkannya jubahnya, diselebungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3 : 6). Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C : 13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya "The Church's Year of Grace" menyatakan bahwa "Rabu Abu Pertama" terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata : "Ingatlah, kita ini abu dan akan menjadi abu" atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil".
Abu yang digunakan pada Hari Rabu Abu berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Setelah Pembacaan Injul dan Homili abu diberkati. Abu yg telah diberkati oleh gereja menjadi benda sakramentali.
Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat dihadapan umum. Pada Hari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yg harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobay, orang-orang yg berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sunggung selama empat puluh haru dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti Misa untuk meneriba abu.
Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu, yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Kesalamat ialah Tuhan Allah kita.
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, ditanggalkannya jubahnya, diselebungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3 : 6). Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C : 13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya "The Church's Year of Grace" menyatakan bahwa "Rabu Abu Pertama" terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata : "Ingatlah, kita ini abu dan akan menjadi abu" atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil".
Abu yang digunakan pada Hari Rabu Abu berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Setelah Pembacaan Injul dan Homili abu diberkati. Abu yg telah diberkati oleh gereja menjadi benda sakramentali.
Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat dihadapan umum. Pada Hari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yg harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobay, orang-orang yg berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sunggung selama empat puluh haru dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti Misa untuk meneriba abu.
Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu, yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Kesalamat ialah Tuhan Allah kita.
Sumber : Suara Paroki Kristus Raja (Hanya untuk kalangan sendiri)
Langganan:
Postingan (Atom)